By: Muffindas

 

Apple Blossom: Pilihan

Hidup adalah tentang pilihan, takdirmu telah ditentukan sejak kau masih di dalam kandungan, namun jalan menuju takdir itu, semuanya ada di tanganmu. Kau selalu punya pilihan, tinggal kau saja yang harus benar-benar selektif dalam menentukan pilihanmu, bukan malah membuat pilihan untuk zat yang memberimu pilihan.

Begitulah yang dialami oleh seorang gadis bernama Azalea Florita. Azalea sendiri adalah salah satu jenis bunga yang dalam kepercayaan Cina merupakan Simbol dari Kewanitaan. Azalea beragama Islam, kok, namun ia punya keturunan Tionghoa yang dibawa dari darah ayahnya, mungkin karena itulah ilmu agama yang dimiliki oleh keluarganya tak sehebat keluarga-keluarga lain, begitu pun dengan dirinya.

Tapi kembali lagi, hidup adalah pilihan. Azalea diberikan Allah pilihan tentang kemana ia akan membawa kehidupannya, ke rana yang lebih baikkah, atau ke rana yang lebih buruk, semuanya ada ditangan Azalea.

Azalea (atau yang kerap disapa Aza) adalah seorang gadis yang bisa dibilang ambisius, selama 18 tahun hidupnya ia lewati dengan mengejar kepentingan dunia. Ia belajar untuk mewujudkan cita-citanya, kadang ia lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sholat, misalnya, dan satu lagi… hijab.

Aza bukan pengguna hijab permanen. Sejak kelas satu SMP, ia menggunakan hijab, namun hijab yang ia gunakan semata-semata karena ia diikat oleh peraturan yang dibuat oleh pemerintah kota tempat ia tinggal dimana peraturan tersebut menyatakan bahwa seluruh siswi SMP dan SMA Negeri yang beraga islam wajib menggunakan hijab dalam kegiatan berlajar mengajar.

Hijab bagi Aza pada awalnya hanyalah sebuah tuntutan untuk memenuhi kewajibannya kepada peaturan yang dibuat oleh manusia. Kerap kali ia menyalahkan peraturan tersebut karena dengan keberadaan peraturan itulah ia jadi merasa tak bebas berekspresi, terutama dengan rambutnya.

Yah… Pikiran bocah ingusan yang tak tahu apa-apa tentang akhirat.

Tidak, kalian jangan salahkan keluarganya yang tak menanamkan sedari awal tentang salah satu kewajiban dari Allah untuk seorang perempuan tersebut. Aza sudah dilahirkan ke dunia, ia punya pilihan, harusnya ia mampu berpikir tentang baik-buruk suatu perkara dengan terus mencari tahu, sayangnya Aza tak melakukannya.

Ketika awal SMA pun Aza masih sama, masih menggangap hijab sebagai sebuah keterpaksaan karena tidak mau menyalahi aturan yang telah ditetapkan. Namun saat kelas dua SMA, saat ia bergabung menjadi bagian dari kepengurusan OSIS di periodenya, Aza mulai memahami hal-hal tersebut. Sebuah rasa ‘tidak enak’ muncul dibenaknya ketika ia lihat semua anak-anak OSIS menggunakan hijab di kegiatan OSIS yang berada di laur jam belajar-mengajar, bahkan teman-teman perempuannya yang terkenal nakal juga menggunakan hijab untuk kegiatan seperti itu. Mulai saat itulah, Aza mulai menerima hijab yang selama ini ia kenakan. Ia yang biasanya hanya menggunakan hijab saat kegiatan belajar-mengajar di sekolah kini mulai menggunakan hijab pula saat kegiatan-kegiatan OSIS atau yang berhubungan sekolah walaupun diluar konteks belajar-mengajar.

Pernah satu kali Aza melepas hijabnya, saat itu ia sedang berlatih untuk penampilan Teater pada pergelaran Pentas Seni dalam rangka pengambilan nilai mata pelajaran Seni di kelas dua SMA. Saat itu, ia dan teman-temannya berjanji untuk kumpul di sekolah mereka terlebih dahulu sebelum menuju ke lokasi latihan. Disana, ia bertemu salah satu guru favoritnya, tampak bercengkrama dengan guru-guru lainnya. Dengan senang hati Aza dan teman-teman sekelasnya (yang juga tidak menggunakan hijab) menghampiri guru tersebut, namun ekspresi yang ditunjukkan sang guru saat melihat murid-muridnya yang tampil berbeda jika dibandingkan saat dalam kegiatan belajar-mengajar menunjukkan eskpresi kecewa.

“Kemana hijabnya?” tanya pak Guru tersebut, ketiga siswi termasuk Aza yang menjadi sasaran bertanya hanya bungkam, ketiganya sama-sama tidak tahu harus menjawab apa. Mereka tahu tentang kewajiban berhijab menurut agama, namun mereka hanya mengabaikannya. Lantas, jawaban seperti apa yang pantas mereka hanturkan? “Kalo nggak pake hijab, nggak usah melangkahkan kaki di SMA ini.” lanjut guru tersebut sembari melangkah meninggalkan ketiganya. Setelah hari itu, Aza semakin mantap menggunakan hijabnya. Perkataan gurunya membuat hatinya tersentil untuk terus menggunakan hijab.

Tanpa diduga-duga, Aza yang awalnya merupakan bagian dari Seksi Bidang Pengabdian Pancasila dan Bela Negara di kepengurusan OSIS dipindahkan oleh sang Ketua OSIS ke Seksi Bidang yang sangat ia hindari, yaitu Seksi Bidang Kerohanian. Hal tersebut menjadi sebuah tamparan untuk Aza, ia tak habis pikir awalnya tentang mengapa ia dimasukkan ke bidang tersebut sedang semua orang tahu pengetahuannya tentang agama masihlah sangat dangkal, ia bahkan baru-baru ini memutuskan untuk berhijab, bahkan ia masih belum sepenuhnya berpikir tentang hijab sebagai sebuah kewajiban agama. Namun apa mau dikata, ia tidak bisa memprotes keputusan tersebut, dan mulai dari sanalah, Aza berusaha untuk memperdalam ilmu agamanya.

Sesederhana itu, awalnya. Aza perlahan-lahan berjalan menuju ke arah yang lebih baik. Meskipun sesekali gadis itu masih saja khilaf untuk melepaskan hijabnya saat mengikuti perlombaan modern dance disekolahnya, tergiur ajakan setan yang selalu membuatnya menyesal.

Ia tahu kalau yang dilakukannya salah, namun ia menyetujui ajakan setan untuk mengembalikannya ke jalan yang sesat. Lihat, kan? Hidup adalah pilihan.

Puncaknya adalah saat acara perpisahaan SMA, ia melepaskan hijab yang selama ini ia gunakan. Bahkan, peryanyaan seperti “Za, Jilbabnya kemana? Kok dilepas?” dari guru-gurunya tak membuat hatinya tersentil seperti dahulu kala, justru ia berpikir “Toh, ini juga hari terakhirku berada di SMA ini.”

Setelah hari itu, Aza tidak lagi terlihat dengan hijabnya. Rambutnya yang lebat dan panjang membuatnya kalap. Ia tersihir oleh betapa cantiknya ia terlihat tanpa menggunakan hijab, dengan darah keturunan tionghoa yang membuat wajahnya tampak makin cantik, ditambah dengan pujian dari teman-teman barunya di bangku kuliah.

Sejujurnya, jauh di dalam hatinya, ia sadar dengan pilihannya yang salah. Beberapa kali kata hatinya berbicara dengan menyuruhnya untuk segera menggunakan hijab, namun sesuatu menahannya.

Ia gagal dalam sebuah tes menuju cita-citanya, menuju impian yang sangat ia inginkan. Ia kecewa, tentu saja.

Hal tersebut membuatnya mengajukan pilihan kepada Allah, dalam sujud terakhir sholatnya ia berkata. “Ya Allah, hamba masih ingin mencoba dan berjuang untuk cita-cita hamba tersebut. Tahun depan, hamba mohon bimbing dan bantulah hamba dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Dan jika hamba berhasil, maka hamba akan menggunakan hijab secara permanen. Ya Allah, mohon kabulkan doa hamba ini, semuanya demi kebaikkan hamba, Ya Rabb. Lulus di Perguruan Tinggi Kedinasan yang hamba damba-dambakan dan menggunakan hijab sebagai tanda bahwa hamba menjadi pribadi yang baru. Hamba mohon, berikan yang terbaik untuk hamba, Ya Allah. Aamiin allahuma aamiin.”

Paham apa intinya?

Intinya, Aza hanya akan menggunakan hijab jika Allah SWT mengabulkan permintaannya.

Selama satu tahun menuju percobaan kedua, ia berjuang mati-matian. Tiap malam ia habiskan untuk belajar tentang materi yang berbeda dengan apa yang ia pelajari di jurusan yang ia ambil di perkuliahannya. Dua bulan menuju percobaan kedua, tiap malam ia habiskan air matanya untuk berdoa sekaligus berjuang untuk mewujudkan impiannya tersebut, membiarkan dirinya jatuh sakit dengan bersikap terlalu keras pada dirinya sendiri.

Selama masa-masa itu pula, Aza masih tetap kekeuh untuk tidak menggunakan hijab sampai Allah menjawab doanya. Harusnya Aza sadar, sejak awal niatnya salah. Ia tak seharusnya berkata demikian kepada sang pencipta. Takdirnya sudah ditentukan tanpa harus ia memberikan pilihan kepada Allah. Bagaimana mungkin makhluk seperti dirinya, yang bahkan tak menuruti semua perintah-perintahnya dengan sombongnya memberikan pilihan kepada sang pencipta?

Awalnya Aza berada diatas awan. Ia lulus pada tes pertama, lalu ia lulus di tes kedua. Karena hal tersebut, Aza makin lupa diri. Dengan percaya dirinya ia yakin Allah akan memberikan Perguruan Tinggi Kedinasan itu sebagai takdirnya. “Allah pasti ingin aku menggunakan hijab, makanya ia membantuku melewati ini semua.”. Begitulah pikiran sombongnya berkata.

Dan semuanya terjawab pada saat tes ketiga, disanalah takdir menunjukkan cara kerjanya. Sejak awal, monitor penilaian yang dilihat oleh anggota keluarga Aza dan keluarga dari peserta lainnya jelas menunjukkan kalau Aza pasti lulus dengan nilai yang ia dapat. Namun, beberapa menit sebelum waktu tes ketiga selesai, Aza mengubah jawaban yang ia pilih. Nilainya yang semula memenuhi persyaratan untuk lulus di Perguruan Tinggi Kedinasan turun bebas, menjatuhkannya pada enam urutan terbawah.

Semuanya sirna.

Aza syok berat, semua perjuangan yang ia alami rasanya sia-sia, tangisnya pecah, pikirannya kacau. Sudah begitu banyak yang ia korbankan untuk sampai ketahap penentuan. Sayang, takdir berkata lain.

Pilihan.

Salahkan pilihan yang Aza tujukan kepada Allah SWT.

Manusia Fana sepertinya tidak patut memberikan pilihan kepada sang pencipta, harusnya ia sadar diri, dirinyalah yang harusnya memilih pilihan yang diberikan sang pencipta.

Begitulah…

Beberapa hari Aza lalui dengan stress berat, ia menolak makan dan minum, tatapannya kosong dan tangisnya siap pecah tiap kali ia mengingat kegagalannya. Ia tenggeam oleh ekspektasinya sendiri, bahwa Allah pasti akan mengabulkan Doanya agar gadis sepertinya kembali ke jalan yang benar.

Dalam masa-masa gelap itu, Aza mengulang kembali memori beberapa tahun silam. Memori yang paling jelas adalah tentang ia dan perjalanan hijabnya.

Di atas tempat tidurnya tanpa penerangan lain selain penerangan dari sinar matahari sore, ia menyadari kesalahannya.

Sejak dulu, apa yang ia lakukan tidaklah berkah, semuanya karena ia tak menggunakan hijab yang menjadi kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia lantas teringat perkataan guru mata pelajaran agamanya saat SMA, “Hijab adalah identitas seorang muslim.”. Dari kalimat tersebut ia menarik kesimpulan. “Selama ini Allah tidak mengabulkan permintaanku bukan karena ia tak menyayangiku. Ia tak mengenali aku dalam tiap sujudku karena hijab yang sering kupermainkan.”

Sore itu, kala cahaya oranye yang berpendar mulai mendominasi langit, Aza membulatkan tekadnya. “Percobaan ketiga dengan hijab dan pribadi yang selalu berusaha menjadi lebih baik lagi.”

Keesokan paginya, sebuah kain warna hijau menutupi rambut hitam panjangnya yang selama ini ia biarkan menjadi tontonan publik, ia mulai menggunakan hijabnya kembali, ia bertekad untuk mengembalikan identitasnya yang selama ini ia sepelekan, ia ingin dikenal oleh sang pencipta dan ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim sejati. Memang belum sepenuhnya syar’i, namun perlahan tapi pasti, suatu hari, kau akan temukan Aza dengan hijab syar’i-nya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” ucapnya saat memasuki pintu kelas perkuliahannya, semua orang menatapnya dengan senyuman bangga. Aza bangkit dari keterpurukan dan kembali ke jalan yang benar.

oO Tamat Oo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *