BEKAL KEIMANAN DAN KETAKWAAN

  1. Defenisi Iman dan Takwa

       Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang redaksionalnya terdapat kata iman, seperti dalam 2:165. Tergambar dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang beriman (kepada Allah) adalah orang yang “Asyaddu Hubban Lillaah”. Artinya cinta yang mendalam kepada Allah. Sikap yang menunjukkan kecintaan atau kerinduan yang luar biasa terhadap Allah. Di sana mencerminkan bahwa iman adalah sikap atau attitude, yaitu kondisi mental yang menunjukkan kecenderungan atau keinginan luar biasa terhadap Allah. Orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang rela mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk mewujudkan harapan atau kemauan yang dituntut Allah kepadanya. Sedangkan kata Taqwa berasal dari kata Waqa, Yaqi, Wiqayah, artinya takut, menjaga, memelihara dan melindungi. Sesuai dengan makna etimologi tersebut, makna Taqwa adalah sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh ( kaafah ) dan konsisten (istiqamah).Di antara makna Taqwa yang diterangkan dalam Al-Qur’an terdapat dalam 2:177.

Disana akan dijumpai setidaknya ada 5 indikator orang yang bertaqwa, yaitu :
1. Iman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-kitab (suci), dan para Nabi. Indikator pertama adalah memelihara fitrah iman.
2. Mengeluarkan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk misi kemanusiaan (riqaab). Indikator kedua adalah kesanggupan mengorbankan harta demi kecintaannya kepada sesama manusia.
3. Mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat. Indikator ketiga adalah memelihara ibadah formal.
4. Menepati janji. Indikator keempat adalah memelihara kehormatan diri (komitmen).
5. Sabar di saat kepayahan, kesusahan dan diwaktu perang. Indikator kelima adalah memiliki semangat perjuangan.

Secara garis besar, agama Islam dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, bagian teori atau yang lazim disebut dengan rukun iman dan bagian kedua adalah bagian praktek, yang mencakup segala apa yang harus dikerjakan oleh orang Islam. Bagian pertama bisa disebut Ushul (pokok) sedangkan bagian kedua disebut Furu’ (cabang). Keimanan seseorang adalah sebagai landasan bersikap, berfikir dan perbuatan yang dilakukan dalam hidupnya. Sejauh dia berusaha menjaga dan mengembangkan kualitas imannya, maka sejauh itu pula dia akan mencapai derajat ketaqwaannya dihadapan Allah swt. Dalam Hadits acap kali kata iman itu digunakan dalam pengertian yang lebih luas, atau kadang untuk menggambarkan perbuatan baik yang sederhana.
Nabi SAW pernah bersabda yang artinya : Iman mempunyai cabang enam puluh lebih , dan rendah hati ( Hayyaa’ ) adalah salah satu cabang dari Imani” (Bukhari,2:3).
Dalam Hadits lain disabdakan :
“Iman mempunyai cabang tujuh puluh lebih, yang paling tinggi ialah kalimat Laa ilaaha illlallah, sedang yang yang paling rendah ialah menyingkirkan apa saja yang bisa mendatangkan bencana dari jalan” (Muslim, 1:12).
Rasulullah pernah bersabda : Bahwa mencintai Shahabat Anshar adalah salah satu pertanda iman” (Bukhari, 2:10). Sabdanya yang lain : Salah seorang diantara kamu tidak beriman, kecuali dia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri (Bukhai,. 2:7).

Masih banyak lagi Hadits-Hadits yang senada seperti itu, singkat kata bahwa ketaqwaan itu adalah suatu implementasi dari keimanan seseorang dalam hidupnya, yang sudah barang tentu juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tertentu sebagai lingkungannya. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa semua rukun iman itu sebenarnya landasan bagi perbuatan. Allah adalah Dzat yang mempunyai segala sifat kesempurnaan. Jika orang diharuskan beriman kepada Allah, itu sebenarnya ia harus berusaha memiliki sifat-sifat akhlak yang tinggi dengan tujuan mencapai Sifat Ilahi. Dia harus menempatkan cita-cita yang amat luhur dan amat suci sebagai idamannya, yang selalu terlintas dalam benaknya, serta dia harus berusaha menyesuaikan tingkah lakunya dengan cita-cita itu. Adapun beriman kepada Malaikat ialah agar dia menuruti bisikan yang baik, sehingga membentuk karakter seperti Malikat, yaitu selalu taat kepada Allah dan sekali-kali tidak mendurhaka kepada-Nya. Beriman kepada Kitab Suci ialah agar manusia mengikuti petunjuk yang termuat di dalamnya guna mengembangkan daya batin dalam dirinya. Sedangkan beriman kepada para Utusan ialah agar manusia mencontoh suri-tauladan yang diberikan oleh mereka dan rela mengorbankan hidup untuk kepentingan sesama manusia.Beriman kepada hari Akhir mengajarkan kepada manusia, bahwa kemajuan material, fisik atau jasmani bukanlan tujuan hidup, akan tetapi tujuan hidup yang sebenarnya ialah hidup abadi yang amat luhur, dimulai dari Hari Kebangkitan (qiyamat). Akhirnya, Iman kepada Qadla’ dan qodar memberi kesadaran kepada manusia tentang Maha luasnya ketentuan-ketentuan Allah yang harus difahami, baik yang tersirat dalam setiap gajala di alam semesta, maupun yang tersurat pada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan kepada para Utusan- Nya. Di samping itu memberikan dorongan kepada manusia agar mencapai kemajuan dalam hidupnya, menyadarkan akan keterbatasan dirinya dan menyadarkan bahwa keputusan Allah ( Qadla’ ) adalah suatu hak preogatif yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

2.Wujud Iman dan Takwa
Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim berbuat amal soleh. Seseorang dinyatakan beriman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai keyakinannya. Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Seseorang dipandang muslim atau bukan muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia berakidah muslim maka segala sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai amal saleh. Apabila tidak berakidah, maka segala perbuatannya dan amalnya tidak mengandung arti apa-apa. Oleh karena itu, menjadi seorang muslim berarti meyakini dan menjalankan segala sesuatu yang diajarkan dalam ajaran Islam.

3.Proses Terbentuknya Iman
Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pembinaan yang berkesinambungan. Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung sangat berpengaruh terhadap iman seseorang. Pada dasarnya, proses pembentukan iman diawali dengan proses perkenalan. Mengenal ajaran Allah harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu. Di samping pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, seorang anak harus dibiasakan dari kecil untuk mengenal dan melaksanakan ajaran Allah, agar kelak dapat melaksanakan ajaran -ajaran Allah.

4.Tanda-tanda orang beriman
Al-qur’an menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:

  1. Jika disebut nama Allah, hatinya akan bergetar dan berusaha ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya ( QS.Al-Anfal : 2).
  2. Senantiasa tawakal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah. (QS. Ali Imran : 120, QS. Al- Maidah: 12, QS.Al-Anfal : 2, QS.At-taubah: 52, Q S.Ibrahim:11).
  3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu melaksanakn perintah-Nya. (QS.Al-Anfal: 3, QS.Al-Mu’minun: 2, 7)
  4. Menafkahkan rizki yang diterima di jalan Allah. (QS. Al-Anfal: 3, Al-Mukminun: 2, 7).
  5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan. ( QS. Al-Mukminun: 3, 5).
  6. Memelihara amanah dan menepati janji. (QS.Al-mukminun: 6)
  7. Berjihad di jalan Allah dan Suka menolong. (QS.Al-Anfal : 74)
  8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin. (QS.An-nur: 62).
  9. Korelasi antara Keimanan dan Ketakwaan

          Keimanan pada ke-Esaan Allah yang dikenal dengan istilah Tauhid dibagi menjadi dua, yaitu Tauhid Teoritis ( Tauhid Rububiyah ) dan Tauhid Praktis ( Tauhid Uluhiyyah ). Tauhid teoritis adalah Tauhid yang membahas tentang ke-Esaan zat, ke-Esaan sifat, dan ke-Esaan perbuatan Tuhan. Konsekuensi tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya wujud mutlak.

         Adapun Tauhid Praktis yang merupakan terapan Tauhid Teoritis, berhubungan dengan ibadah manusia. Dalam menegakkan Tauhid seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep dan pelaksanaan, pikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks dengan demikian bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan percaya kepada Allah melalui pikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkannya dengan perbuatan.

5.Implementasi Iman dan Takwa

       Seperti yang telah dijelaskan, bahwa manusia harus melepaskan belenggu- belenggu dalam hidupnya guna mengadakan perubahan-perubahan positif mencapai kemajuan, yang itu bisa dicapai hanyalah dengan Tauhid (meng-Esaka Allah swt). Dalam Islam tidak ada satupun ajaran dogmatis, yaitu ajaran yang dianggap dapat menyelamatkan manusia hanya dengan percaya saja. Menurut ajaran Islam, Iman bukanlah semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan Iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Hanya dengan Iman yang benar manusia mencapai kemajuan yang sebenarnya dalam kehidupan modern. Di samping itu manusia dalam setiap perbuatannya selalu berpegangan dengan satu kekuatan yang luar biasa untuk menyelamatkan kehidupan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Allah :

Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( QS.Al-Baqarah::256 ).

         Iman kepada Allah dan Malaikat akan mendorong manusia kearah perbuatan baik, sedangkan setan adalah makhluk yang mendorong manusia kearah perbuatan jahat. Oleh sebab itu yang dimaksud mengimplementasikan iman adalah, menerima suatu prinsip sebagai landasan bagi perbuatan baik, yang seluruh ajaran Islam cocok dengan kemajuan fitrah manusia. Dalam Islam tidak ada dogma, tidak ada rahasia dan tidak ada kepercayaan yang tidak memerlukan perbuatan. Tiap-tiap rukun iman adalah ajaran yang harus diwujudkan dalam perbuatan, guna mencapai puncak perkembangan manusia. Dalam menegakkan Tauhid, manusia harus menyatukan iman dan amal, konsep dan pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian bertauhid adalah yakin dan percaya kepada Allah semata melalui fikiran dan membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan. Di samping itu manusia juga dianugerahi akal pikiran dalam melakukan perbuatannya. Menggunanakan akal atau pertimbangan dalam masalah agama dan undang-undang, juga memegang peranan penting dalam agama Islam, oleh karena itu Al-Qur’an sangat menghargai akal fikiran. Berulang-ulang Al- Qur’an berseru untuk menggunakan akal dan pertimbangan. Al-Qur’an banyak pernyataan seperti :”Apakah kamu tidak merenungkan ?”,”Apakah kamu tidak mengerti?”,”Apakah kamu tidak mempunyai akal?”,”Ini adalah pertanda bagi orang yang mempunyai akal”,”Dalam hal ini adalah pertanda bagi orang yang mempunyai akal” dan sebagainya. Orang yang tidak menggunakan akalnya disamakan dengan binatang, bahkan dikatakan pula dalam Al-Qur’an, sebagai orang yang tuli, bisu dan buta (2:171, 7:179, 8:22, 25:44, 3:189, 190).

Islam yang telah dipisahkan dengan ilmu pengetahuan, sebagai akibat lanjut dari pemisahan agama dengan masalah-masalah dunia oleh kekuatan- kekuatan jahat. Dalam perkembangannya umat Islam seolah-olah kehilangan kemampuan menghadapi cepatnya perubahan sosial dan teknologi di zaman modern ini.

Berbagai cabang ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Teknologi dengan temuan-temuannya dalam waktu yang relatif singkat semakin canggih, makin mengagumkan dan memukau. Seharusnya dengan hasil tersebut dapat membuat makin sempurnalah kebahagiaan hidup manusia. Akan tetapi kenyataannya bukan mengangkat harkat manusia, kemajuan tersebut bahkan membuat kesengsaraan sebagian besar umat manusia. Penjajajahan, penindasan bentuk baru, tindak kesewenangan hingga ke peperangan dalam berbagai bentuk menghantui kehidupan ini. Dengan pemahaman yang benar tentang implementasi iman dan taqwa dalam kehidupan modern, diharapkan mencapai kesadaran yang benar tentang tidak terpisahnya hubungan Islam dan Ilmu Pengetahuan, tidak terpisahnya kehidupan jasmani dan ruhani serta kehidupan dunia dan akhirat, sehingga sumbangan kemajuan ilmu pengetahuan akan mendatangkan kebahagiaan hidup pribadi, bangsa bahkan dunia hingga akhirat melalui Islam. Dalam Al-Qur’an sarat akan keterangan mengenai indikator orang-orang yang Taqwa, antara lain dalam 3:133 – 136 setidaknya ada 6 indikator :1.Gemar berinfaq dalam berbagai situasi dan kondisi.2.Mampu menahan amarah.3.Pemaaf kepada segenap manusia.4.Gemar berbuat baik dengan siapapun.5.Segera insyaf dan bertaubat atas kesalahan yang pernah diperbuat.6.Tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.

Juga dalam QS.3:19-195 disebutkan beberapa indikator orang-orang yang berakal sehat, antara lain :
1. Selalu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi.
2. Selalu berfikir (mempelajari) gejala-gejala alam (ilmu pengetahuan).
3. Kesadaran menghindarkan kesengsaraan dalam hidup.
4. Kesadaran menumbuhkan keimanan.
5.   Mewaspadai terjadinya kesalahan yang mungkin diperbuat.
6. Meyakini kebenaran janji-janji Allah lewat Utusan-Nya.

Ada kalimat yang perlu direnungkan dalam hal ini, dari Dr. Albert Instein yang mengandung saran untuk berusaha kearah penyatuan agama dan ilmu pengetahuan, sebagai berikut :

Emosi yang paling indah dan paling mendalam yang dapat kita alami adalah kesadaran akan perkara yang sifatnya spiritual (mistis). Kesadaran itu merupakan kekuatan segala ilmu pengetahuan sejati. Orang yang tidak mengenal emosi itu, yang tidak dapat lagi merasa kagum dan terpesona karena rasa hormat yang mendalam, boleh dikatakan mati. Mengetahui sesuatu yang tidak dapat kitafahami itu sungguh ada dan menyatakan diri sebagai kebijaksanaan yang setinggi- tingginya dan keindahan yang seindah-indahnya, dimana kesanggupan kita yang tumpul itu hanya dapat memahaminya dalam bentuknya yang paling sederhana, pengetahuan dan perasaan itu ialah pusat keagamaan yang sejati”.

6.Problematika, tantangan dan resiko dalam kehidupan modern

Pada millennium ketiga, bangsa Indonesia dimungkinkan sebagai masyarakat yang satu dengan yang lainnya saling bermusuhan. Hal itu digambarkan dalam QS. Ali Imran : 103, sebagai kehidupan yang terlibat dalam wujud saling bermusuhan ( idz kuntum a’daa’an ), yaitu suatu wujud kehidupan yang berada pada ancaman kehancuran. Adopsi modernisme (westernisme), kendatipun tidak secara total, yang dilakukan bangsa Indonesia selama ini, telah menempatkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang semi naturalis. Di sisi lain, diadopsinya idealisme juga telah menjadikan bangsa Indonesia menjadi pengkhayal. Adanya tarik menarik antara kekuatan idealisme dan naturalisme menjadikan bangsa Indonesia bersikap tidak menentu. Oleh karena itu, kehidupannya selalu terombang-ambing oleh isme-isme tersebut. Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari persoalan tersebut, perlu dilakukan revolusi pandangan. Dalam kaitan ini, iman dan taqwa yang dapat berperan menyelesaikan problema dan tantangan kehidupan modern tersebut.

7.Peranan Iman dan Takwa dalam menjawab problem dan tantangan kehidupan

Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia:

  1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda

Orang  yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Sebaliknya, jika Allah hendak menimpakan bencana, maka tidak ada satu kekuatanpun yang sanggup menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis kepercayaan pada khufarat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah firman Allah surat Al- Fatihah ayat 1-7.

  1. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut

Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak di antara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah:                      Artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?.( QS. An- Nisa : 78)

  1. Iman menanamkan sikap self help ( menolong diri sendiri ) dalam kehidupan

Rezeki memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendirian bahkan tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan, bermuka dua, menjilat dan memperbudak diri karena kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini adalah firman Allah:                                                     Artinya: Dan tidak ada satu binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauhul mahfud) ( QS.Hud :6).

  1. Iman memberikan kententraman jiwa

Acapkali manusia dilanda resah dan duka cita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan , hatinya tentram ( mutmainah ), dan jiwanya tenang ( sakinah ), seperti dijelaskan firman Allah:

        Artinya:…..(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram ( Ar-Ra’d:28 )

  1. Iman mewujudkan kehidupan yang baik ( hayatan tayyibah )

Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu melakukan kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah :

        Artinya: Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahal yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (An Nahl:97)

  1. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen

Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat ikhlas, tanpa pamrih , kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berpegang teguh pada firman Allah:
Artinya: Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-An’aam:162)

  1. Iman memberikan keberuntungan

Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar karena Allah membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Artinya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah:5)

  1. Iman mencegah penyakit

Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan azas moral dan ahlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat kepada Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya hormon adrenalin dan persenyawaan kimia lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itulah timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.

Pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk masyarakat yang aman, tentram, damai, dan sejahtera.

  • Fluktuasi Iman dan Takwa
  • Integrasi IMAN, ILMU, AMAL DAN IKHLAS
  • Defenisi Iman: Aliiman alqoulu billisaan…dst
  • Alimaanu yazdaadu bithooah dst…
  • Yarfaillahuladziiina…dst.QS.Al-Mujadilah : 11
  • Amal: Allah swt Berfirman: :”Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan segala pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan” ( QS.An-Nahl: 97 ).
  • Ikhlas: Qs.Al-Bayyinah:5
  • Al-Mulk: 2
  • Ujian Allah: QS.Al-Ankabut: 2

Disampaikan Oleh: Al-faqir ilallah Hendri Kusnadi,S.Th.I.,M.M pada “Pelatihan Khatib dan Da’I” tanggal 22 maret 2015 di Masjid Al-Thuraiqi Poltek UNSRI Bukit Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *