By: Aping

Waktu itu aku menyebutnya “masa kelam”. Aku masih mengikuti kegiatan-kegiatan yang luar biasa jahiliyah. Berteman sangat akrab dengan lelaki itu sudah jadi keseharian. Aku mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, di sana aku memainkan peranku bersama seorang partner yang juga seorang lelaki, lalu bergulat dengan bambu dan tali hingga menjadi sebuah alat yang disebut tandu. Tidak ada tanda-tanda yang menampakkan aku seorang muslimah waktu itu.

Saat itu sedang menggebunya memperjuangkan gelar pemenang di setiap perlombaan. Setiap hari sepulang sekolah aku bergulat mengasah kemampuan demi menyabet gelar itu. Seringkali kuabaikan kata-kata ibuku yang bertanya kenapa aku selalu pulang sore. Yang menjadi prioritasku hanya satu: menang lomba. Tapi memang tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Aku berhasil mencegah kemarahan ibuku karena aku membawakannya sebuah trophy kemenangan.

Suatu waktu, peri kecil dalam hati terdalam menamparku, mengingatkan akan cita-citaku semasa SMP. Cita-cita itu ialah memakai jilbab apapun yang terjadi. Kemudian aku menemui ibuku, membicarakan perihal keinginan yang telah menjadi angan sejak lama itu.

“Nanti, ya, Nak. Ibu kumpulin uang dulu untuk beli perlengkapannya,” jawab ibuku kemudian.

Sedikit rasa kecewa tertinggal di sana. Tapi, rasa sedih lebih kentara melihat ibu siang malam banting tulang mencari uang hanya untuk keinginan anaknya tersayang. Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi seorang diri.

Namun, kondisi itu tidak sedikitpun menyurutkan keinginan. Walau sempat terpuruk beberapa hari, sesegera mungkin aku mencoba kembali berdiri. Sambil terus menyisihkan uang saku harianku, sesekali aku menemui sepupu-sepupu perempuanku. Aku bertanya, walau sekadar basa-basi, mengenai harga seragam sekolah serba panjang. Terkadang aku juga menanyakan apakah seragam mereka dulu masih ada atau tidak. Dan dari perjuangan keliling pintu ke pintu saudara-saudaraku itu, aku mendapatkan baju pramuka, meski tidak ada roknya.

Sesekali hatiku merasa iri melihat teman-temanku yang sudah menutup rapi rambut mereka, meskipun ada beberapa teman yang mengaku memakainya hanya saat sekolah. Ingin sekali secepatnya aku membeli segala perlengkapan itu. Terkadang aku menghibur diri dengan bertekad ketika sudah memakai jilbab, tidak peduli sekadar menyapu teras rumah pun aku akan tetap memakainya. Aku akan mengalahkan mereka semua.

Ibuku ternyata menceritakan keinginanku itu kepada satu-satunya saudara perempuanku. Ia memanfaatkan profesinya sebagai penjahit untuk membuatkanku rok jurusan sekolahku yang tidak ada di pasaran. Senang bukan kepalang aku dibuatnya. Tak lama dari itu, aku menerima beasiswa bulananku. Ditambah tabunganku yang tidak seberapa itu, aku membelanjakannya beberapa helai jilbab dan rok pramuka panjang di pasar. Selain itu, entah dari mana ibuku mendapatkan satu setel seragam putih abu. Ia berkata ini warisan dari anak majikannya. Sehingga lengkaplah sudah koleksi seragam sekolahku.

Hari itupun tiba. Pada tanggal 7 Maret 2015, untuk pertama kalinya aku berangkat ke sekolah lengkap dengan niat berjilbab kemanapun aku keluar pintu rumah. Meskipun waktu itu hanya jilbab pendek dan tipis, serta kebiasaan bermain bersama lawan jenis masih belum bisa kuhilangkan. Aku masih gemar bermain dengan bambu dan tali itu setiap kali latihan di jam ekstrakurikuler. Tapi setidaknya, satu cita-citaku terwujud kala itu.

Bisa dibilang proses waktu itu hanya bermodal nekad. Karena hanya seragam sekolah yang baru bisa kukoleksi. Semenjak itu aku jadi jarang keluar rumah karena persediaan baju panjang yang masih sangat minim. Jika terpaksa harus keluar rumah, aku memanfaatkan satu-satunya jaket yang masih muat dan pantas untuk kugunakan. Jilbabpun masih meminjam milik ibu atau saudara perempuanku. Celana olahraga selalu menjadi korban jika harus keluar pintu rumah. Bahkan ketika liburan tiba, atau ketika benda-benda itu dicuci, aku rela tidak keluar rumah seharian penuh.

Hari demi hari berlalu, kunikmati bersama perasaan bahagia. Beberapa kerabat yang mengetahui kabar menggembirakan itu mewariskan beberapa jilbabnya kepadaku. Hingga suatu pagi, ketika aku mamatut diri dalam cermin, aku sadar, bahwa selama ini jilbabku tidak menutup tengkukku dengan sempurna. Beberapa helai anak rambut yang berdiri juga luput darinya. Lantas, aku mencoba mencari solusi, memperhatikan orang-orang di sekitarku lagi. Dan sebuah ide muncul. Aku menumpuk jilbab yang biasa kupakai dengan jilbab warisan kerabatku menjadi satu, kemudian mengenakannya bersamaan.

“Jilbab-in hati dulu, deh, baru pake jilbab beneran. Kan malu sama jilbabnya kalau kelakuan masih belum benar.”

Kata-kata itu membuatku sempat ragu dengan jilbab berlapisku. Aku khawatir dengan penilaian orang lain terhadap perilaku yang tidak selayaknya muslimah yang belum bisa kutinggalkan. Namun, ibuku selalu menyemangatiku, “setidaknya kamu sudah menutup salah satu muara dosa dengan menutup auratmu,” katanya.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan suatu kelompok yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Kelompok yang kutemui pertama kali ketika magang. Kelompok itu menyebut dirinya “liqo”. Di sana aku belajar banyak hal mengenai apa-apa saja yang seharusnya ditutupi. Mulai dari memakai rok, memakai kaos kaki, memakai kaos tangan, hingga memakai jilbab yang baik dan benar.

Selanjutnya, musuh terberat dalam perjuanganku ialah kondisi keuangan yang membatasiku untuk memperbarui penampilanku. Karena sudah mengetahui bagaimana cara berpakaian yang seharusnya, membuat pikiranku selalu terbeban mengenai penampilanku yang sekarang tidak sesuai dengan syariat. Aku belum mampu memenuhinya. Aku mulai mencari cara bagaimana aku bisa mencari uang untuk membeli semua itu.

Itu bukanlah proses yang sebentar. Berbulan-bulan aku masih merasa was-was karena hal tersebut, Hingga akhirnya aku mulai menerima upah dari mengajar. Aku menyisihkan sedikit demi sedikit karena dari situlah juga uang sakuku berasal, aku sudah tidak meminta uang saku dari ibuku. Semenjak kuliah, aku mendapat beasiswa. Sehingga uang tabunganku ditambah uang beasiswa itu, aku bisa mulai membeli beberapa hal yang kubutuhkan tanpa membuat ibuku bersedih.

Memperbaiki perilaku adalah tantangan yang senantiasa ada di sepanjang perjalanan setiap orang yang berhijrah. Tak terkecuali aku, yang rasanya belum pantas menyebut diri ini telah berhijrah. Selalu ada jalan untuk niat yang baik. Ekonomi bukanlah penghambat hati untuk berusaha memperbaiki diri. Asalkan niat dibarengi tekad yang kuat serta memang Allah SWT yang telah menghendaki, tak ada yang mustahil di dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *