hukum-dan-adab-melaksanakan-itikaf2

hukum-dan-adab-melaksanakan-itikaf1

Ibadah i’tikaf bertujuan mulia yaitu untuk menggapai malam lailatul qadar yang punya keutamaan ibadah yang dilakukan lebih baik daripada 1000 bulan. Di antara tujuan i’tikaf adalah untuk menggapai malam tersebut. Dan yang paling utama bila i’tikaf dilakukan di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas, jelaslah bahwasanya kita dianjurkan untuk beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus merutinkan hal ini hingga beliau meninggal dunia. Dikhususkannya sepuluh hari terakhir dengan i’tikaf juga disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf juga disyari’atkan setiap waktu, namun lebih ditekankan di bulan Ramadhan, terlebih di sepuluh hari terakhir dari bulan suci tersebut. Tidak hanya laki-laki yang diperbolehkan untuk i’tikaf, seorang perempuan juga diperbolehkan untuk beri’tikaf. Jumhur atau mayoritas ulama mengatakan bahwa disunnahkan bagi para wanita untuk beri’tikaf sebagaimana kaum pria. Namun dengan beberapa syarat;

  • I’tikaf tersebut dilakukan dalam keadaan suci -bagi ulama yang mensyaratkan masuk masjid harus suci dari haidh
  • Harus bebas dari menimbulkan fitnah (godaan bagi pria), dan
  • Diizinkan oleh suami atau orang tuanya.

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menghidupkan hari-hari terakhir bulan Ramadhan dengan ibadah i’tikaf.

Referensi:

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 129-130.

sumber: rumahsyo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *