Seumpama dengusan lebah bising suara mereka, layaknya gerombolan semut ku lihat mereka memadati jalan kecil ini. Di balik jendela, ku tatap silau matahari yang memancar seakan menantang menertawakan ku. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang, ya memang sudah waktunya mereka pulang. Setiap hari kecuali minggu merekalah yang menjadi penghiburku selama aku berada di sini. Keceriaan yang mereka pancarkan setiap hari menjadi sumber kebahagiaanku yang telah lama tak pernah mendengar suara khas tertawa anak-anak, tertawa yang tulus, tertawa yang tanpa beban, tertawa bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu dalam benak mereka. Aku memang tinggal di sini semenjak 3 tahun yang lalu, aku tinggal di salah satu rumah jompo di Bogor. Tepat di depan rumah jompo tempat ku tinggal, berdiri sebuah bangunan sekolah dasar yang setiap pagi dan siang hari selalu menjadi pemandangan yang membahagiakan bagiku. Di atas kursi roda ini, aku yang membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan apapun tak pernah melewatkan satu hari saja untuk melakukan rutinitas itu.

Hari ini ingin ku selesaikan semua cerita yang selalu ada dalam pikiranku, cerita yang selalu hadir di tengah-tengah renungan malamku.

Aku Endah, aku wanita baya yang telah renta. Hidup tanpa keluarga yang ku harapkan selalu ada di akhir hidupku. Sekarang umurku sudah menginjak 78 tahun. Cerita ini dimulai sejak 40 tahun lalu, aku seorang ibu rumah tangga biasa dengan keluarga kecil yang bahagia. Aku memiliki 2 orang anak laki-laki Sulung dan Tengah. Sulung sekarang sudah kelas satu SMP dan Tengah masih kelas lima SD. Sulung adalah anak yang pintar, selalu berprestasi sejak masih di Sekolah Dasar dan Tengah adalah anak yang rajin dan kuat. Mereka berdua saling melengkapi satu sama lain. Suamiku bekerja sebagai pegawai bank swasta di sini. Awalnya keluarga kami keluarga yang bahagia, keluarga sederhana yang sempurna. Memang kami tidak hidup dengan segala fasilitas mewah, tapi alhamdulillah semua kebutuhan kelurgaku terpenuhi.

Pagi ini, aku bangun kesiangan hingga tidak sempat menyiapkan semua keperluan suami dan anakku termasuk sarapan mereka. Aku merasa tidak enak badan dari semalam, semua badanku terasa sakit, kepala pusing serta mual. Akhirnya suamiku yang memasak untuk sarapan mereka pagi ini, dia juga yang merawatku pagi ini. Membuatkan aku teh hangat, memberikanku sarapan, serta mengurus semua keperluan anak kami untuk pergi ke sekolah. Tepat pukul 06.30 pagi, suami dan anak-anakku pergi dengan motor butut yang kami punya suamiku mengantar anak kami ke sekolah terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempatnya bekerja. Kebetulan, sekolah Sulung dan Tengah berdekatan hingga suamiku tidak usah memutar jalan untuk mengantar mereka. Setengah jam mereka pergi, Sulung kembali ke rumah dengan menangis dan diantar oleh seorang laki-laki yang seumuran dengan bapaknya dengan baju basah terkena darah ia menangis tersedu-sedu. “Kau kenapa nak?” tanyaku pada Sulung. Dengan terpatah-patah ia menjawab pertanyaanku “Ba.. ba.. pak, bu bapak” ia menangis lebih kencang. Aku memeluknya erat, aku berusaha menenangkannya. “Tenangkan dirimu nak, bicaralah pelan-pelan” kataku menenangkan. “Bapak terluka ditabrak mobil di jalan depan protokol buk” sambil menangis ia menjelaskan. “Iya bu, suami ibu menjadi korban tabrak lari, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit” aku terdiam mendengar kalimat yang dikatakan oleh lelaki yang datang bersama Sulung. Aku tersentak, segera aku bergegas untuk pergi ke rumah sakit tanpa pinggir panjang.

Sesampainya aku dan Sulung di rumah sakit, ku lihat Tengah sudah menangis tersedu tak tertahankan. Ku temui dokter dan dokter hanya mengatakan maaf dan kalimat klasik lain yang selalu dikatakan dokter saat mereka gagal, “maaf bu, saya minta maaf. Saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi Allah berkehendak lain.” Sontak aku berlari ke ruang rawat suamiku, ku lihat ia sudah terbujur kaku, sekuat mungkin aku menahan tangis agar anak-anakku bisa tegar.

Sekarang satu bulan setelah kepergian suamiku, kehidupan baru sudah dimulai, kini aku harus bekerja untuk menghidupi kedua anakku serta bayi yang sedang ku kandung sekarang. Belum lagi sekarang Sulung yang sudah menginjak kelas 3 SMP memerlukan banyak biaya untuk persiapan ke SMA dan Tengah yang baru saja masuk SMP yang untuk keperluannya aku meminjam uang ke tetangga. Setiap selepas sholat subuh aku beranjak pergi ke pasar berjualan sayur dengan motor butut peniggalan suamiku sekaligus benda yang menemaninya sampai akhir hayatnya. Dengan perut yang semakin membuncit aku pergi saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah tenggelam. Mungkin karena kehidupan kami yang sulit, Sulung dan Tengah tumbuh dengan manndiri dan dewasa. Setiap pagi mereka menyiapkan sarapan mereka sendiri sebelum pergi ke sekolah entah mereka membeli di warung, memasak mie instan ataupun menggoreng nasi sendiri. Aku bersyukur kepada Allah karena memiliki dua lelaki kuat dan dewasa di hidupku.

Hari ini, Sulung menerima pengumuman hasil Ujian Nasionalnya. Aku, Tengah dan Bungsu yang baru berumur 3 tahun menunggunya pulang di rumah dengan cemas. Saat pintu rumah bergerak, kami bertiga serentak menoleh, ini dia yang kami tunggu-tunggu pulang dengan wajah berbinar-binar. “Ibu aku lulus dengan nilai terbaik bu” Sulung berkata dengan semangat, “benar kak? Berapa nilaimu? Matematika? Bahasa?” Tengah meberinya banyak pertanyaan. Sulung tertawa sambil mengatakan “ini kau lihat sendiri saja”. Dengan wajah yang mulai berubah Sulung berkata “bu, aku diterima di salah satu universitas negeri di kota tanpa jalur tes bu, tapi”. “Alhamdulillah, benarkah nak? Ibu bangga sekali” belum sempat Sulung menyelesaikan kalimatnya aku sudah memotong terlebih dahulu. “Tapi Bu, aku pikir lebih baik aku bekerja saja di sini. Kuliah membutuhkan banyak biaya bu, aku akan menyulitkan ibu” aku tetap menguatkan Sulung dan menyakinkannya bahwa ia akan bisa kuliah “nak, kesempatan tidak akan datang dua kali, dengan bermodal ijazah SMA saja kau mau jadi apa di kampung ini? Tapi jika kau kuliah mungkin masa depan yang lebih indah akan terbuka untukmu.”

Pagi ini aku memutuskan menjual motor butut peninggalan suamiku serta beberapa perhiasan yang ku beli saat suamiku masih ada. Aku menjual semuanya sebagai modal awal untuk Sulung kuliah. Awalnya sulung menolak dengan keras, tapi aku berhasil memaksanya untuk mau menerima. Satu pesan yang aku titipkan ke Sulung “Nak, jaga dirimu baik-baik di sana. Ingat ibu dan adik-adikmu, niat kau untuk pergi ke kota adalah menuntut ilmu jangan tinggalkan sholat sesibuk apapun kau dengan aktifitasmu”. “Iya bu, aku akan mengingat pesan ibu” dengan menitihkan air mata aku melepas sulung pergi.

Kini, untuk memenuhi semua kebutuhan kami dan kulaih sulung, aku bekerja lebih keras. Teras depan rumah aku sulap jadi warung kecil-kecilan untuk berdagang sayur. Uangnya lumayan untuk tambahan mengirim uang ke Sulung. Setiap satu bulan sekali Sulung mengirimi kami surat memberi kabar tentang kuliahnya di kota. Tapi entah kenapa sudah hamper 4 bulan ini Sulung sudah tidak lagi mengirim surat ke kampung. Dalam surat terakhirnya ia mengatakan bahwa ia telah wisuda dan langsung melakukan pelatihan sebelum bekerja di sebuah perusahaan otomotif. Mungkin karena ia sedang mengikuti latihan jadi ia tidak sempat mengirim kabar ke kami.            Tengah sudah satu tahun lulus dari SMA dan kini ia bekerja serabutan di pasar sedangkan Bungsu masih duduk di kelas 3 SD. Tugasku mengatarkan Sulung ke kehidupan yang lebih baik ku rasa sudah selesai, tapi hatiku pedih melihat Tengah dengan apa yang dijalaninya sekarang. Aku berpikir keras untuk menebus kesalahanku padanya, aku kemarin karena terlalu sibuk memikirkan Sulung. “Assalmualaikum buk” suara lembut di depan pintu memecahka lamunanku, “Walaikumsalam eh Mira, mau ambil jahitan seragam kemarin yah?” jawabku pada gadis cantik yang ada di hadapanku sekarang. “Iya Bu, sudah selesaikan?” tanyanya, “Iya sudah selesai, wah berkas apa itu Nak sepertinya banyak sekali?” alu tertarik melihat setumpuk kertas yang ia bawa. “Oh ini data dan brosur tentang program transmigran buk, sekarang programnya sudah sampai di tempat kita. Lumayan Bu, untuk peserta transmigran akan diberikan rumah dan tanah serta modal untuk membuka lahan ataupun usaha di tempat peserta bertransmigrasi” jelasnya padaku. “Boleh ibu minta brosurnya satu? Apa saja persyaratan untuk ikut program ini Nak?” tanyaku “tentu saja boleh Bu, semua persyaratan yang harus dilengkapi sudah ditulis semua di brosur Bu, oh iya ini uang jahitannya Bu. Mira pulang dulu, terimakasih”

Aku terdiam menatap secarik kertas brosur yang aku pegang, aku menatap ada masa depan yang lebih baik di kertas ini untuk Tengah dan Bungsu. Di sini aku bisa mengatarkan Tengah ke masa depan yang lebih baik. Sore harinya, saat Tengah dan Bungsu sedang menonton televisi aku datang mendekati mereka dan mengatakan niatku untuk ikut program transmigras pada mereka. Bungsu yang tidak mengerti apa yang sedang aku bicarakan hanya diam sedangkan Tengah dengan tegas menolak karena alasan kasihan pada adiknya Bungsu jika harus pindah sekolah dan tinggal di tempat yang terpencil ataupun tertinggal. Hanya saja aku memaksa dan telah mempersiapkan semua keperluan kami untuk ikut program transmigrasi. Tengah yang tidak setuju dengan keputusan, sangat terpaksa menuruti keinginanku.

Satu bulan kemudian kami melakukan program transmigrasi setelah mengikuti sejumlah pelatihan, seminar, dan arahan dari pemerintah. Di pedalaman Begkulu kami bertiga mendapatkan tanah yang cukup luas dan satu rumah yang cukup besar untuk kami tinggali. Selain itu kami bersama 29 keluarga lain juga mendapat sembako untuk satu bulan ke depan. Di sini, akum ulai mempersiapkan segalanya, untuk tahap awal aku bersama Tengah dan keluarga lainnya membuka lahan untuk pertanian dan membuat kolam untuk berternak ikan lele. Semuanya baik lahan maupun peternakan ikan lele aku serahkn untuk Tengah, yang mengelola dan mendapatkan hasil adalah Tengah karena memang semuanya aku lakukan untuk dia. Semakin lama lahan pertanian dan peternakan ikan Tengah semakin pesat ia bisa memperluas usahanya dengan mebeli lebih banyak lahan. Dengan kemapan dan umurnya yang sudah dewasa ia mempersunting kekasihnya yang sekaligus seseorang yang ikut berperan dalam keberhasilannya. Mira, gadis pegawai kelurahan yang menyerahkan brosus transmigrasi kepadaku siang itu. Selesai sudah tugasku mengantarkan Tengah, kini tugasku yang terakhir.

Bungsu, anak perempuan satu-satunya ini sudah ikut membantu di perternakan kakaknya, ia diberikan kepercayaan oleh kakanya untuk menjalankan usaha peternakan lele kakanya di pusat kota Bengkulu. Aku sudah rindu lama tak bertemu dengannya, dan siang ini aku akan pergi untuk menemuinya diantar oleh Tengah dan menantuku yang sedang hamil muda. Ku lihat Bungsu sedang berberes untuk menutup toko tempat ia menjual ikan hasil peternakan kakaknya saat aku sampai. Lama kami berbincang hangat di ruang tamu tempat Bungsu tinggal, Tengah dan istrinya berpamitan pulang karena tak bisa meninggalkan usahanya. Aku, sekarang memutukan untuk tinggal dan menemani Bungsu di sini. Setelah Tengah menikah, aku berpikir tugasku sekarang adalah mengantarkan Bungsu.

3 tahun lebih aku tinggal bersama Bungsu, akhirnya lelaki yang telah menjalin hubungan dengannya selama 2 tahun datang melamar. Hendra, ia bekerja sebagai TNI Angkatan Darat yang tengah bertugas di Bengkulu. Lelaki yang gagah, berani, tegas dan bertanggung jawab hamper mirip dengan anakku tengah. Mereka akan melaksanakan pernikahan pada akhir tahun ini.

Tepat satu minggu sebelum pernikahan bungsu, aku yang tengah menonton televisi dikejutkan dengan datangnya 3 orang polisi masuk ke ruang tamu bersama Bungsu. “Silahkan duduk Pak, ini ibu saya” aku bersalaman dengan Poilisi itu. Mereka menanyakan soal Sulung, aku bingung dan bertanya di dalam hati ada apa sebenarnya? Belum sempat aku bertanya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan “Jadi begini Bu, Sulung sudah lama menjadi buronan kami karena kasus penjualan narkoba. Kemarin kami sudah berhasil menangkap dua teman Sulung. Hanya saja Sulung berhasil melarikan diri” aku dengan keras mebantah “Mana mungkin Pak, anak saya adalah anak baik-baik. Ia sekarang sedang bekerja di perusahaan otomotif di kota, ia sarjana lulusan Universitas favorit di kota”, “iya Bu, memang Sulung sempat tercatat semaga mahasiswa di universitas kota, tapi ia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya.” Aku tersentak, kau terjatuh dan pingsan. Mana mungkin anak yang aku besarkan dengan segala perjuangn anak menjadi seorang penjahat.

Saat aku bangun, aku merasa badanku kaku dan tidak bisa bergerak. Bungsu menangis di sebelah tempat tidurku di rumah sakit ini. Tubuhku yang tua membuat aku lemah. Aku bukan ibu yang kuat lagi untuk anak-anakku sekarang, aku gagal, gagal mendidik Sulung gagal mengantarkannya ke masa depan yang baik. Maafkan aku suamiku aku gagal. Di atas kursi roda, aku menyaksikan pernikahan putriku dengn Tengah sebagai walinya. Setelah Bungsu menikah aku tetap tinggal bersamanya, tapi sekarang kami tinggal di Yogyakarta karena Hendra menantuku pindah tugas ke sini. Kini aku hanya bisa menjadi beban untuk Bungsu dan suaminya, semua keperluan ku semua aktivitasku harus mereka bantu. Dengan sabar dan telaten Bungsu mengrusku, memandikanku, menyuapiku makan, mendorong kursiku setiap pagi dan sore untuk berjalan ke luar.

Hingga suatu hari, Bungsu datang ke kamarku dan mengatakan bahwa suaminya ditugaskan di Aceh dan mereka harus pindah. Bungsu menangis tersedu, karena dengan keadaanku yang seperti ini tidak mungkin Bungsu mengajakku pergi menyebrang pulau menggunakan bus berhari-hari dan menaiki kapal untuk menyebrang lautan. “Maaf bu, bukan maksud kami ingin meninggalkan ibu tapi aku harus bertugas di sana bud an Bungsu memang harus ikut” ucap menantuku dengan lirih. Tanpa mengeluarkan air mata aku menangis dalam. Melihat Bungsu memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas. kota Bengkulu.

Pagi ini, aku datang di sini, di tempat yang tak pernah aku harapakan. Aku ditinggalkan anak-anakku di sini. Ketahuilah Nak, dulu saat ayah kalian pergi, Ibu dengan sekuat tenaga menjaga kalian, bekerja keras untuk membesarkan kalian, semua dilakukan agar kalian punya masa depan. Ibu tak pernah meminta balas jasa apapun Nak. Ibu hanya inginmenghabiskan waktu tua bersama kalian, apa kalian lelah? Apa kalian bosan mengurus orantua tak berguna ini? Tak pernah sepucuk suratpun datang membawa kabar kalian tak pernah sekalipun kalian datang menjenguk apalagi menjemput. Mungkin kalian sedang sibuk dengan urusan kalian, tapi percayalah di sini Ibu selalu menunggu kalian datang selalu mendoakan kalian agar kalian senantiasa dilindungi oleh-Nya. Ibu tidak tahu apa kalian akan menjemput atau Ibu akan tetap di sini selamanya. Mati bersama lamunan di balik jendela ini ditertawakan matahari.

 

2

 

 

 

 

 

Penulis:  Febriani

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *