Dalam sebuah lamunan yang merampas damai,,.

Kala sebuah cercaan sampah dari lidah yang tak bertulang

kembali menyerang indra dengarku

Batin ini memberontak,mengekang  penuh cambuk kepedihan

Jiwa ini terluka, Batin ini terkoyak dan angan ini terperosok dalam jurang kegelapan.

Namun ,

Lamunan itu seketika buyar,kegelapan itu lenyap tak bersisa

Tatkala sebuah dekapan tulus, menyapa jiwa yang tengah merontah dalam diam.

Tatkala sebuah belaian lembut bagaikan belaian keindahan syurga, menyapa rusuhnya

batin ini.

Tatkala itulah ,kalbu ini mulai menemukan kembali ,damai jiwa yang sempat

Terampas oleh kegelapan.

Belaian syurga itu membasuh luka hati yang ku alami, karna lisan para manusia yang

Menuhankan kesombongan dirinya.

Lisan itu menyampahi jiwaku,meludahi nuraniku dengan bait-bait yang tajamnya

Melebihi sebuah belati.

Namun,

Belaian syurga yang menyapaku, membuka mataku,membuka anganku yang hampir

Lelap dalam kegelapan.

Membuat tegarku yang sempat hancur bagai butiran pasir di laut lepas, kembali

kokoh bahkan lebih kokoh dari sebelumnya,

anganku melayang mengingatmu sang pemiliki belaian syurga itu.

Manusia yang tak pernah menorehkan luka di hatiku.

Manusia baja yang berhati sutra, yang selalu jadi perisai namun tak pernah merisihkan.

Jika bagi mereka aku hanyalah sampah

Maka bagimu aku adalah harta yang lebih berharga dari sebuah tahta

Jika bagi mereka aku adalah kerikil yang tajam

Maka bagimu aku adalah mutiara yang berlilau.

Oh, wahai engkau yang miliki belaian syurga itu,

Sungguh tak lagi aku peduli pada cercaan tajam itu,

Karna aku memilikimu, yang bahkan lebih berharga dari dunia dan seisinya.

Oh ibu, Kau lah yang miliki belaian syurga itu,.

Kau yang menghadirkan kedamaian di tengah ricuh badai dalam hidupku.

Ibu ,Teruslah bersamaku .

Ajarkan aku mencintai tanpa harap balas

Ajarkan aku mengasihi tak peduli batas

Dan ajarkan aku menyayangi  setulus hati dan ikhlas.

Ibu,

Belaian syurga darimu, akan selalu jadi belaian terindah dalam hidupku.

Ibu,aku ingin selalu bersamamu,

meski kelak dunia ini lenyap dan hilang untuk selamanya.

 

Oleh:  Herlisya Diana

Kelas: 3KIA

juara-dua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *