By : Kgs. M. Hamzah Ashidiqi

 

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh  ikhwafillah sekalian , nih kali ini kita akan membahas mengenai bagian penting yang mungkin belum kita ketahui mengenai shalat jum’at . artikel kali ini spesial nih bagi ikhwan sekalian , tapi jangan kecewa buat akhwat  , ini juga sangat berguna buat kalian loh untuk menambah wawasan nya dan bisa di amalkan kepada saudara muslim/ah yang lain , kuy kita bahas !

Sholat Jum’at adalah sholat 2 rakaat yang dilakukan di hari Jum’at secara berjamaah setelah khutbah Jum’at dan setelah masuk waktu Dzuhur. Untuk dapat melakukan sholat Jum’at berjamaah, jumlah yang hadir harus minimal 40 orang dan dilakukan di masjid yang dapat menampung banyak jamaah.

Hukum sholat jum’at bagi laki-laki adalah wajib. Hal ini berdasarkan dalil sholat Jum’at yang diambil dari Al Qur’an, As-Sunnah dan ijma atau kesepakatan para ulama. Dalilnya adalah surat Al Jumu’ah ayat 9 yang berbunyi,

Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”


Sedangkan hadist Nabi yang memerintahkan untuk melaksanakan sholat Jum’at adalah dari hadist Thariq bin Syihab yang bunyinya,

Jum’atan adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan), yakni budak sahaya, wanita, anak kecil atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud)


Jadi, hukum shalat Jum’at bagi laki-laki adalah fardhu ‘ain, yakni wajib dilakukan bagi setiap laki-laki. Sedangkan bagi wanita tidak diwajibkan, namun tetap harus melaksanakan sholat Dhuhur.

Nah jadi ikhwafillah sekalian yang diwajibkan sholat jum’at yaitu:

1. Muslim yang sudah baligh dan berakal. Meski anak laki-laki yang belum baligh belum mendapatkan kewajiban untuk melaksanakan sholat Jum’at namun hendaknya anak laki-laki yang sudah mumayyiz (berumur sekitar 7 tahun ) maka orang tua atau walinya diminta untuk memerintahkan anak tersebut menghadiri sholat Jum’at.

2. Laki-laki. Tidak ada kewajiban melakukan sholat Jum’at bagi perempuan.

3. Orang yang merdeka, bukan budak sahaya. Pada poin ini, terdapat perbedaan pendapat antar ulama, karena berdasarkan hadist, hamba sahaya atau budak tidak wajib melakukan sholat Jum’at. Dasar pemikirannya adalah karena tuannya sangat memerlukan tenaganya sehingga sang hamba sahaya tidak dapat leluasa melakukan sholat Jum’at.

Namun sebagian ulama menyatakan, bila majikannya mengizinkan dirinya untuk melakukan sholat Jum’at maka sang hamba sahaya wajib menghadiri sholat Jum’at tersebut karena tidak ada lagi uzur yang menghalangi. Pendapat ini dikuatkan oleh as-Syaikh Muhammad bin Shalih as-‘Utsaimin (Asy-SyarhulMumti’ 5/9).

4. Orang yang menetap dan bukan musafir ( orang yang sedang bepergian ). Dasar pemikirannya adalah ketika Rasulullah SAW dahulu melakukan safar atau bepergian, beliau tidak melakukan sholat Jum’at dalam safarnya. Pun ketika Nabi SAW menunaikan haji wada’ di Padang Arafah ( wukuf ) pada hari Jum’at beliau menjama’ sholat dhuhur dan ashar dan tidak melakukan shalat Jum’at.

5. Orang yang tidak memiliki halangan atau uzur yang dapat mencegahnya menghadiri shalat Jum’at. Apabila orang tersebut memiliki halangan, maka dia hanya wajib melakukan sholat dhuhur saja. Diantara orang yang memiliki uzur dan diperbolehkan meninggalkan shalat Jum’at adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab keamanan dan kemaslahatan umat, diantaranya adalah petugas keamanan, dokter dan sebagainya.

6. Orang sakit yang membuatnya tidak mampu menghadiri shalat Jum’at dan akan menemui kesulitan untuk melaksanakan bukan sekedar perkiraan, seperti terkena diare misalnya, maka diperbolehkan tidak melakukan shalat Jum’at. 

 

Maka bagi yang diwajibkan sholat Jum’at sebagaimana di atas namun tidak mengerjakan dengan uzur syar’i, hukum meninggalkan sholat Jum’at adalah haram.

“Barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at 3 (tiga) kali tanpa sebab maka Allah akan mengunci mata hatinya.” (H.R. Malik)


Hadist lain pun menyebutkan

“Barang siapa yang tidak mengerjakan Shalat Jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan mengunci mata hatinya.” (H.R. At Tirmidzi)

Itu penjelasan mengenai shalat jum’at , Nah  masuk ke topik inti , mungkin para ikhwan belum banyak mengetahui apakah kita di perbolehkan masbuk atau menggantinya dengan shalat lain ? .

Orang yang menghadiri jum’atan, tidak disyaratkan harus mendapatkan khutbahnya imam. Andaikan ada orang yang datang telat, sehingga baru bisa bergabung ketika iqamah, maka dia cukup melaksanakan shalat dua rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh imam. Karena orang ini dianggap mendapatkan Jum’atan.

Lalu kapan batasan seseorang dianggap mendapatkan Jum’atan, jika tidak mendapat jum’at nya bagaimana ? .

Ibnu Rusyd mengatakan,

فَإِنَّ قَوْمًا قَالُوا: إِذَا أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْجُمُعَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْجُمُعَةَ، وَيَقْضِي رَكْعَةً ثَانِيَةً، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، فَإِنْ أَدْرَكَ أَقَلَّ صَلَّى ظُهْرًا أَرْبَعًا. وَقَوْمٌ قَالُوا: بَلْ يَقْضِي رَكْعَتَيْنِ أَدْرَكَ مِنْهَا مَا أَدْرَكَ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ.

“Sebagian ulama berpendapat, jika makmum mendapatkan satu rakaat shalat Jum’at (bersama imam) maka dia mendapat Jum’atan, sehingga dia hanya mengganti satu rakaat. Namun jika dia mendapatkan kurang dari satu rakaat (bersama imam), maka dia wajib shalat zuhur, 4 rakaat. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam As-Syafi’i.

Sementara ulama lain berpendapat, makmum (yang masbuq) hanya mengganti dua rakaat, selama dia masih mendapatkan bagian apapun dari (shalatnya imam). Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Bidayatul Mujtahid, 1:199)

Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam As-Syafi’i, sebagaimana keterangan Syekh Abdul Aziz Ibnu Baz berikut:

إذا لم يدرك المسبوق من صلاة الجمعة إلا السجود أو التشهد ، فإنه يصلي ظهرا ولا يصلي جمعة . لأن الصلاة إنما تدرك بركعة؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة)) وقوله صلى الله عليه وسلم: ((من أدرك ركعة من الجمعة فليضف إليها أخرى وقد تمت صلاته)) فعلم بهذين الحديثين أن من لم يدرك ركعة من الجمعة فاتته الجمعة وعليه أن يصلي ظهرا . والله ولي التوفيق .

“Apabila makmum masbuk shalat Jum’at hanya mendapatkan sujud dan tasyahud, maka dia shalat zuhur dan tidak shalat Jum’at (2 rakaat). Karena status shalat hanya bisa didapatkan (setelah mengerjanak) satu rakaat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة

Siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat maka dia sudah dianggap mendapatkan shalat.” (HR. Bukhari 546 dan Muslim 954)

 

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من أدرك ركعة من الجمعة فليضف إليها أخرى وقد تمت صلاته

Siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat Jum’at maka hendaknya dia tambahkan rakaat yang lain, sehingga shalat Jum’atnya sempurna.” (HR. An-Nasai dan At-Turmudzi)

Nah jadi ikhwafillah sekalian dari dua hadis ini diketahui bahwa orang yang mendapatkan satu rakaat bersama imam maka ia harus mengganti satu rakaat lagi , dan jika  tidak mendapatkan satu rakaat pun jum’atan bersama imam maka dia tidak mendapatkan jum’atan, sehingga dia wajib shalat zuhur. Tetapi pesan untuk para ikhwan sekalian alangkah lebih baik nya shalat jum’at nya lebih di jaga agar sempurna dan mendapat nilai lebih di sisi ALLAH SWT karena bisa mendapat sunah jum’at yang di anjurkan

Sekian pembahasan untuk kali ini ikhwafillah sekalian , mohon maaf apabila salah kata kepada ALLAH SWT kami mohon ampunan , akhirul kalam wabillahi taufik wal hidayah wal ridho wal inaya Wassalmu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *