Maret 2018

 

THE SYIAR BULLETIN

Edisi 01:

PELARANGAN CADAR…WAJAR ATAU KURANG AJAR ?

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil’alamiin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat-Nya lah The Syiar Bulletin edisi perdana ini dapat hadir di hadapan sahabat semua. Sholawat beserta salam tak lupa disampaikan kepada Rasullullah SAW. yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.

Apakah isu terhangat akhir-akhir ini mengenai umat Islam? Ya. Cadar. Beberapa perguruan tinggi melarang mahasiswi nya dan juga dosen menggunakan cadar. Seperti hal nya pada perguruan tinggi yang berlabelkan islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan juga Institut Agama Islam Negri (IAIN) Bukittinggi.

Apakah sebab pemakaian cadar di larang di tempat tersebut ? Apakah islam mengajarkan untuk saling mementingkan urusan khusus dengan cara melanggar aturan Allah SWT seperti ini ? Pentingkah hal ini untuk kita ketahui? Pentingkah untuk kita kaji ? Ya, Jawabannya adalah sangat penting.

 

TAHUKAH KAMU ?

(6/3/2018) Birokrat kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta memprasangkai keberadaan mahasiswi bercadar di UIN telah memicu dampak negatif seperti menjadi pengikut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sekarang diketahui merupakan organisasi terlarang dan juga Islam radikal, juga dikhawatirkan mereka menganut islam yang anti dengan Pancasila. Para mahasiswa yang telah dicatat bakal didampingi dan diberi pengarahan oleh kampus. Jika masih ngeyel bercadar, mereka dimohon undur dari kampus, atau di berhentikan dari kuliah.

Sedangkan (6/12/2017) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mengeluarkan sebuah surat teguran tertulis bagi seorang Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan atas nama Hayati Syafri untuk tidak bercadar. Surat yang ditandatangani oleh Nunu Burhanuddin yang tak lain merupakan dekan fakultas itu, berisi tentang peringatan terhadap ibu Hayati untuk berpakaian di dalam kampus sesuai dengan kode etik dosen IAIN Bukittinggi dan dosen yang bersangkutan diminta melepaskan cadar ketika mengajar di kelas.

Ketentuan Pasal 29 ayat (2) UUD NKRI 1945 berbunyi : Negara menjamin kemerdekaann tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Melihat hubungan larangan memakai cadar ini dengan ketentuan pasal 29 ayat (2) UUD NKRI 1945 ialah sangat bertolak belakang. Miris karena hal ini jelas melanggar hak berkeyakinan. Lucu karena ini terjadi justru di ranah keilmuan yang memiliki etos kebebasan akademik, kebebasan berpikir, agar mahasiswanya berpikiran luas.

APA KATA MEREKA ?

Abdullah Ubaid, kordinator nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), mengatakan, “Dalam Indonesia malah menjadi aneh. Kalau ada perempuan yang memakai cadar itu malah justru menjadi perhatian publik. Yang harusnya perempuan itu, kalau dalam Islam tidak menjadi perhatian publik supaya tidak menjadi sumber fitnah.”

Komisioner Komnas Perempuan Masruchah menyebutkan bahwa aturan soal larangan cadar dan pemberantasan radikalisme atau fundamentalisme di kampus adalah dua hal yang terpisah. “Memang dengan fenomena radikalisme dan ekstremisme yang luar biasa, kekhawatiran pasti terjadi di berbagai perguruan tinggi, (ketika ada) orang-orang yang menggunakan cadar, masuk ke situ, dianggaplah mereka komunitas yang fundamentalis, padahal saya kira teman-teman yang pluralis, yang memilih untuk menutup bajunya dengan cadar juga banyak.” kata Masruchah.

Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Sumatra Barat (Sumbar) berharap IAIN Bukittinggi segera mengakhiri polemik yang muncul soal larangan pemakaian cadar di kampus itu. “Persoalan ini sudah menjadi polemik dan viral di masyarakat, rektor harus mengevaluasi kebijakan yang telah dibuat,” kata Pelaksana tugas Kepala Ombudsman perwakilan Sumbar Adel Wahidi di Padang, Kamis (15/3/2018).

Menururt Ustadz Adi Hidayat, “Kita tidak boleh munafik dan musyrik di zaman jahiliyah dahulu yang mengolok-olok perempuan-perempuan yang tampil lebih baik sesuai dengan isyarat al-quran.”

KABAR TERKINI

Larangan penggunaan cadar di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga telah resmi dicabut. Hal ini diketahui dari sebuah surat edaran yang telah tersebar. “Berdasarkan rapat koordinasi universitas (UKU) pada Sabtu, 10 Maret 2018 diputuskan bahwa surat rector No. B-1301/Un.02/R/AK.00.3/03/2018 tentang pembinasaan mahasiswi bercadar dicabut demi menjaga iklim akademik yang kondusif,” demikian bunyi surat yang beredar di kalangan wartawan.

Sedangkan di IAIN Bukittinggi telah resmi dikeluarkannya surat edaran untuk tidak boleh bercadar. Berdasarkan surat edaran yang ditempel, Pihak Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi, mencantumkan beberapa poin bagi mahasiswa perempuan yakni, untuk bersikap sopan santun, tidak melanggar kode etik berpakaian yakni, memakai pakaian agar longgar, jilbab tidak tipis, dan tidak pendek, tidak bercadar, masker atau penutup wajah serta memakai sepatu dan kaos kaki.

 

HIMBAUAN

Memerangi radikalisme, terkhusus di kampus, tentu bukan dengan cara yang bertentangan dengan asas dasar lembaga pendidikan tinggi. Melainkan, dengan mengerahkan mahasiswa membaca berbagai buku agar mereka tidak mengarah pada radikalisme semu.

Maka dari itu, LDK KARISMA yang mengedepankan nilai-nilai saling menghargai persaudaraan dan kemanusiaan dengan ini mengajak untuk bersikap saling menghargai untuk kepercayaan masing-masing Bersama-sama kita berdoa dan bersatu untuk kemajuan Islam yang terbaik.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

#SyiarKece

#LDKKarisma

#KarenaKitaKeluarga

#TebarKebaikanTanpaBatas

#TheSyiarBulletin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *