head buleting

Adz dzabhu (penyembelihan) adalahperkara yang lazim dan hamper tiap waktu terjadi dihadapan kita. Maka seyogyanya bagi kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum syar’i yang berkenaan masalah tersebut.

Apalagi tidak sedikit dari kaum muslimin yang mulai rapuh keimanannya dan sudah mulai enggan untuk mendatangi majelis-majelis ilmu syar’i, dikarenakan tenggelamnya mereka kedalam lembah syahwat dan lautan syubhat yang menghancurkan prinsip-prinsip aqidah agama mereka, sehingga mereka menyangka syirik itu tauhid dan tauhid adalah syirik, bid’ah adalah sunnah dan sunnah adalah bid’ah, dan tidak tahu mana yang haram dan mana pula yang halal. Terbukti tidak sedikit dari mereka ikut serta dan andil dalam menggelar acara besar-besaran penyembelihan hewan kurban dalam rangka menghilangkan bala’, mala petaka atau pun musibah dan juga untuk meraih harapan duniawiyah seperti kerja, mencari jodoh, jabatan dan semisalnya, Semuanya dipersembahkan kepada dhayang (penunggu) pantai atau tempat-tempat yang dikeramatkan dengan suatu argumen. Bahkan Sebagian menyatakan bahwa ini adalah adat istiadat atau acara ritual nasional yang harus di lestarikan. Ada juga yang dilakukan di kuburan-kuburan para wali sebagai wasilah (perantara) antara mereka dengan Allah Bagaimanakah Islam memandang permasalahan ini ?

 

KEDUDUKAN ADZ DZABHU

Adzdzabhu adalah suatu perbuatan untuk mengeluarkan ruh dengan cara mengalirkan darah dari hewan tertentu dengan tujuan tertentu pula. Jika sesembelihan tersebut diperuntukkan kepada Allah dalam rangka taqorrub (mendekatkandiri) danta’zhim (pengagungan) dan sesuai tuntunan syari’at, maka hal itu merupakan semulia-mulia ibadah maaliyah (hartabenda), seperti halnya sholat merupakan seutama-utama ibadah badaniyah. Hal ini bias disimak dari firman Allah yang selalu diiringkan antara adz dzabhu dengan sholat :Katakanlah (wahai Muhammad), sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah robbul ‘alamin Yang tidak ada sekutu bagi-Nya.(Q.S. Al An’am 162-163)

Dan jugafirmanNya : “Dan sholatlah kepada robbmu dan berqurbanlah (kepada robbmu juga)(Q.S. Al Kautsar : 2)

HUKUM ADZ DZABHU UNTUK SELAIN ALLAH

Adzdzabhu jika ditinjau dari sisi niat pelakunya ada beberapa keadaan :

1 Adz dzabhu yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah dengan penuh rasa pengagungan, ini adalah kategori suatu ibadah maliyah mulia yang memang dianjurkan dalam agama Islam sebagaimana keterangan di atas.

2 Apabila adz dzabhu diperuntukkan kepada selain Allah dengan disertai rasa ta’zhim (pengagungan) kepadanya dan tadzallul (penghinaan) pada diri pelakunya, akan mendapatkan beberapa ancaman dariAllah :

1. Mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana hadist yang diriwayatkan dari jalan Ali bin Abi Tholib, Rosulullah berkata: Allah melaknat (dijauhkan dari rahmat-Nya) siapa saja menyembelih atau berkurban untuk selain Allah (H.R. Muslim)

2. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang dilarang oleh Allah, sebagaimana dalam surat Al An’am 162 :

“Katakanlah (wahai Muhammad), sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah robbul ‘alamin yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Dan juga firman Allah :

“Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah (berbuat syirik besar) maka sungguh telah diharamkan baginya jannah dan tempat kembalinya adalah jahannam serta tidak ada penolong pun bagi orang-orang yang zholim (musyrik)” (Q.S. Al Maidah:72)

Al Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirul Qur’anil ‘azhim beliau menjelaskan tentang ayat 162 pada surat Al An’am tersebut : “Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya mengkabarkan kepada orang-orang musyrikin yang mereka menyembah kepada selain Allah dan juga berkurban untukselain-Nya :

“Sesungguhnya Nabi Muhammad mengikhlaskan (memurnikan) sholat dan sembelihannya semata-mata hanya untuk Allah”. Karena orang-orang musyrikin yang mereka itu menyembah dan berkurban untuk selain Allah, maka Allah memerintahkan pula kepadaNabi Muhammad untuk menyelisih mereka dan menjauhkan diri dari perbuatan mereka”.

Peribadatan orang-orang musyrikin seperti berdo’a, istighotsah, atau ibadah yang lainnya disamping patung-patung ataupun dimakam-makam orang-orang sholih, tidaklah semata-mata beribadah kepadanya, akan tetapi sebagai wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah, hal ini sebagaimana yang dipaparkan dalam firman-Nya :

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung (wali-wali) selain Allah, (merekaberkata) : tidaklah kami menyembah mereka melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah”.(Q.S. AzZumar : 3)

Para pembaca, mari kita menengok keadaan mayoritas kaum muslimin di nusantara ini. Ternyata fenomena orang-orang musyrikin di jaman Rosulullah sama halnya dengan keadaan sekarang bahkan mungkin lebih menyedihkan. Sebagian kaum muslimin ketika menjelang malam suro (1 Muharram) berbondong-bondong menyembelih kerbau untuk dipersembahkan kepada penunggu pantai selatan. Ada lagi yang menyembelih hewan kurban untuk dipersembahkan kepada penunggu tempat kramat, seperti pohon besar yang diyakini bias mendatangkan manfaat dan menolak madharat, atau penjaga gunung ,atau sungai tertentu. Mereka meyakini sumber munculnya berbagai musibah atau mala petaka dikarenakan marahnya para penunggutempat tersebut, diakibatkan karena lupa atau kurang sesaji yang diberikan kepada mereka,

Sehingga terjadilah penyembelihan-penyembelihan hewan kurban untuk dipersembahkan kepada selain Allah, yang tidak diragukan lagi bahwa hal ini adalah perbuatan syirik besar. Sebagian lagi dari kaum muslimin mendatangi makam-makam orang-orang sholih (wali-wali) sambil menyembelih hewan disamping makam-makam tersebut sambil berdo’a meminta diberikan rizki, anak, jodoh, kerjadan lain sebagainya. Ada yang memang meminta langsung kepada penghuni makam tersebut, ada juga yang berdalih sebagai wasilah antara dia (penghuni kubur) dengan Allah. Hal ini juga termasuk perbuatan syirik besar yang bias mengeluarkan pelakunya dari agamanya sebagaimana dalam fataawa Al Lajnah Ad Daa’imahjilid 1 hal.116-124.

3. Ad dzabhu yang diperuntukkan kepada selain Allah tanpa adanya ta’zhim kepada sesuatu tertentu, maka hukumnya adalah mubahbah kanada yang sunnah muakkadah. Seperti halnya menyembelih dengan niatan memuliakan dan menjamu tamu dengan sebaik-baiknya hukumnya adalah sunnah muakkadah, berdasarkan hadist Rosulullah :

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (Muttafaqun‘Alaihi) Begitu juga dalam rangka acara aqiqoh anaknya, yang di sembelih dihari ketujuh dari kelahirannya, dua ekor kambing bagi anak laki-aki dan seekor kambing bagi anak perempuan, sesuaidenganhadistNabi :

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqohnya, yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, digundul kepalanya dan diberi nama” (yang baikpadaharitersebut)

(H.R Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah dan yang lainnya)

Atau juga dalam rangka walimah (pesta) pernikahan.Rosulullah menganjurkan kepada Abdurrahman bin Auf ketika mengadakan walimatul ’ursy, beliau berkata :

“Berpestalah walaupun dengan seekor kambing” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dan juga adz dzabhu semata-matata mattu’ (bersenang-senang) adalah perkara yang pada asalnya mubah. Adz dzabhu dari jenis ketiga ini tidak masuk kedalam larangan Allah :

“Bahwasanya telah diharamkan atas kalian bangkai, darah, daging babi, dan sesuatu yang disembelih untuk selain Allah”

(Q.S Al Baqaroh : 173)

Dengan syarat adz dzabhu (penyembelihan) tersebut dengan menyebut nama Allah, hal sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam surat Al An’am ayat 121 :

“Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan”

Wallahu A’lam Bishshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *