By: Dandelion

Pada zaman dahulu kala. “Jiahhh kuno sekali awalannya siss || gapapalah biarin dah bodoamat :v “. Konon katanya, selama ibu mengandung aku, ibu pernah cerita ke aku kalo beliau kepingin anak laki-laki. Jadi tiap malam ibu ku itu always bangun di sepertiga malam berdoa buat bisa dapet anak laki-laki waktu ngandung aku. Padahal sebelum ngerencanai untuk buat anak ke empat, ibu aku sudah gak mau lagi punya anak karena putus asah buat dapet anak laki-laki. “eh, kok aku jadi sedih sendiri ya?”. Tapi ayah ku itu kepingin bener punya anak laki-laki, oke akhirnya ibu punya anak ke empat dan ibu mungkin terkejut kalo anaknya yang lahir keempat ini adalah seorang perempuan, “kenapa gak usg sis dulu biar gak terkejut? || eh kamu mah, zaman dulu mungkin belum ada usg -,- || hehe, oh iya aku lupa. Terus-terus anak cewek itu gimana? Mau dibuang gitu? || Astaghfirullah mulutmu sadis bener yakk, mangkanya dengerin dulu, belum habis ceritanyaa.. “ . Yang namanya kasih orangtua itu tak terhingga ya, mana ada orangtua yang mau membuang atau memisahkan anaknya dari buaiannya, walaupun dulu aku memang sempat ingin di adopsi oleh saudara ayah ku, namun kedua orangtuaku tetap tak ingin melepaskanku, “uhhh masyaAllah co cuitnyaaa”. Satu tahun lebih berlalu, kasih sayang Allah itu tiada hentinya sama kayak disurah Ar-Rahman ayat 13. Ibu ku akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Dan kini aku memiliki empat saudara yang saling menyayangi.

Aku tumbuh dilingkungan yang standar dalam ilmu agama. Ibuku hanya jika berpergian jauh selalu mengenakan hijab begitupula saudariku yang setiap hari jum’at harus mengenakan hijab karena aturan sekolah, walaupun tak setiap keluar rumah memakai hijab. Saat itu aku mulai tertarik untuk memakai hijab, kuambil taplak meja dirumahku “wkwk, bikin ngakak kalo di inget-inget jaman old dulu | udah-udah lanjutt ceritanya “,dan dengan polosnya kulipat dan ku pakai dikepalaku. “Ibuk, Ayuk, aku cantikan pake jilbab?” kata ku sambil menatap kaca dengan menggunakan kaos pendek bewarna kuning waktu itu. “iya kamu cantik benerr” jawab mereka sambil mencubit pipiku. Saat itu aku mulai berfikir jika aku masuk sekolah nanti aku akan mengenakan hijab supaya aku kelihatan cantik. Setiap malam ku mencoba untuk belajar mengenakan hijab dari taplak meja, handuk, selendang ibuku dan kain-kain lainnya.

Waktu terus berjalan, dan tak terasa aku sudah masuk sekolah dasar. Waktu itu aku hanya mengenakan hijab satu hari dalam seminggu dan hari itu adalah hari yang ku sukai dan ku tunggu-tunggu, hari itu adalah hari Jum’at. Enam tahun berlalu dan aku masih melakukan hal yang sama dengan identitas islamku. Di kelas satu sekolah menengah, aku bertemu dengan beberapa teman sekelas yang mengenakan hijab. Aku suka sekali melihat mereka yang berhijab setiap hari. Pada saat itu aku juga masih belum mengenakan hijab secara betul dan aku hanya membawa hijab yang aku simpan didalam tas untuk digunakan pada saat pelajaran agama saja. Mereka teman sekelas itu ketika ada jam kosong selalu mengajakku mengobrol perihal hijab dan mencoba mengajakku untuk mengenakan hijab. Ketika itu aku yang memegang jilbab yang tak aku gunakan sambil mengobrol bersama mereka. Tiba-tiba mereka memaksa ku dengan lembut untuk mengenakan hijab yang aku pegang, kemudian kupasanglah hijab ini. Awalnya aku sangat canggung sekali mengenakan hijab ini disamping baju sekolah yang kukenakan berlengan pendek. Namun mereka temanku mengatakan, “MasyaAllah.. duhh cantik bener yak kalo udah pake hijab kamu yut”, aku menjawab “haha bisa aja kalian mahh, tapi aku ini belum siap memakai hijab”, setelah itu langsung kulepaskan hijab ini dengan segera karena merasa malu mengenakannya didepan teman-temanku. Dan masih saja belum ada ketukan di hati ku untuk mengenakan hijab ku dengan sungguh-sungguh.

Hari-hari di sekolah menengah terus berlalu, kenaikan ku kelas kekelas dua sekolah menengah menghantarkanku bertemu lagi dengan seorang teman lama SD ku yang sudah lama berpisah karena ia harus pindah ke Bali. Ya, rindu itu sekarang sudah terluapkan oleh kedatangannya. Setiap hari kami menghabiskan waktu bersama, apalagi dikelas, karena waktu itu ia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya yang sama sepertiku. Namun jelang tiga bulan berlalu, sedikit ada konflik diantara kami yang membuat kami memutuskan untuk meninggikan ego kami masing-masing sebagai logika kemarahan karena hal sepele, “waduhh, serem amat siss… || wkwk, biasa ajee keles || terus apa alasan kamu bisa musuhan karena hal sepele? || etdahhhh kamu kepo bener dah.. ini tuh kisah perjalanan hijab ku, bukan tentang ini.. || duhh padahal aku penasaran dengan yang ini

|| nanti aja aku ceritain di cerpen yang lain yak wkwk.. || Oke lanjuttt…. “. Hampir satu bulan kami tak saling sapa karena hal sepele tersebut, sampai pada hari disaat ia mengenakan hijab. Lalu aku tertegun, dan merasa bahwa akulah yang salah. Akhirnya aku meminta maaf dengan kesalahan yang telah aku perbuat kepadanya. Namun saat itu aku rasanya sudah mulai berfikir untuk mengubah diriku dengan mengenakan hijab bukan hanya untuk menutupi rambut ku tapi juga  sebagai pelindung ego ku yang tinggi dimasa itu.

Di siang hari setelah kupulang sekolah, masih terus didalam fikiranku terngiang untuk mengenakan hijab. Namun banyak sekali alasan didalam diri ini yang membuat aku menunda-menunda kebaikan itu. Sampai disemester dua di kelas delapan hidayah itu masih belum kuat bertahan di hati dan masih tergoyah oleh alasan-alasan yang klasik. Aku berusaha menanyakan perihal hijab ini kepada ibuku yang disebelahnya kebetulan ada tante ku yang sedang berkunjung kerumah, dan aku mengatakan bahwa aku ingin mengenakan hijab disetiap harinya. Lalu sontak jawaban tante ku mengguyur jawabanku, “Kalo mau pake jilbab bener, kamu harus rajin sholat lima waktu dulu. Nanti percuma dong udah pake jilbab tapi sholatnya bolong-bolong.”, kemudian aku terdiam dan bingung untuk menyanggah jawabannya, setelah itu ibuku melanjutkan perbincangan ini dengan mengatakan, “Iya itu benar kata tante mu, kamu aja cuma sholat maghrib dalam satu hari, gimana mau pake hijab kalo sholatnya aja belum bener.”, “ hehe iyadeh” jawabanku. Keinginanku yang kuat saat itu mengenakan hijab mulai goyah lagi dengan perkataan itu, dan aku berfikir jika perkataan itu adalah benar, bahwa aku ini masih belum benar dengan perihal sholat. Masih sangat malas sekali untuk dapat mengerjakan sholat lima waktu.

Aku yang setiap harinya mendengar radio dari handphone ku. Waktu itu aku sedang mencari siaran lagu pop, eh tak taunya tak sengaja ku terdengar nyanyian dari suara ustad Jeffry Al-Buchori yang judulnya aku tidak tau, namun aku masih teringat dengan liriknya. “stop stop stop !!! kamu mau nyanyi ya? || iya, emang kenapaa? || suara kamu itu terlalu bagus jadi gak usah pake nyanyi-nyanyilah -,- || hmm, kamu menyinggung dengan halus pisannn yak, okelah aku nurut deh kali ini. || gudd (y) “. Jadi liriknya itu gini, sepohon kayu daunnya rimbun, lebat buahnya serta daunnya, walaupun hidup seribu tahun, bila tak sembahyang, apa gunanya. Kami sembahyang limalah waktu, siang dan malam sudahlah tentu, hidup dikubur yatim piatu, tinggalah seorang dipukul dipalu. Dipukul dipalu sehari-hari, barulah ia sadarkan diri, hidup didunia tiada berarti, akhirat disana sangatlah rugi. Seketika aku sadar dan terbayang sampai terbawa mimpi gimana kalo aku sudah didalam kubur dan dipukul serta dipalu oleh malaikat karena aku tak sholat dan tak juga mengenakan hijab. Malamnya aku berniat ingin bangun subuh dan memaksa diri untuk sholat subuh. Dan memulai hari yang baru dengan berusaha melaksanakan sholat lima waktu, walaupun awal-awalnya niat dalam sholat ku itu masih teruntuk hal yang ria’ karena ingin disanjung oleh orang terdekat ku. Selanjutnya ku beranikan langkah awal selanjutnya untuk mengenakan hijab, namun hal ini hanya ku lakukan untuk pergi sekolah saja disetiap harinya.

Hari demi hari berlalu usaha satu tahun lebih ku melaksanakan suatu kewajiban sebagai umat islam dengan hidayah yang belum kuat, rasanya banyak sekali cemo’oh yang menumpahi wajah ini. Ada yang bilang sok alim lah, sok taat lah dan ada juga yang memuji dengan nada yang menyinggung serta lain sebagainya. Dan aku hanya diam, selalu berusaha menguatkan diri dengan menyampaikan keluh kesah ini kepadaNya.  Kemudian untuk memperkuat dan memperbaiki iman ku aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ku di sebuah Madrasah Aliyah, dan ini adalah pengalaman pertamaku masuk sebuah madrasah. Disini aku semakin banyak belajar tentang ilmu agama yang awalnya banyak belum ku ketahui sebelumnya misalnya seperti dalil wajibnya berhijab karena yang ku tau bahwa itu hanya sekedar kewajiban tanpa ada dalil yang kuketahui dengan tepat, dan juga lingkungan dengan teman-teman yang saling mendukung. Aku mencoba melihat teman-teman madrasah ku yang berjilbab syar’i yang tenang apabila diri ini menatapnya, aku mendengar juga kisah teman-teman madrasah ku yang mempertahankan hijabnya yang perjalanan lebih begitu sulit dibanding diri ini, namun mereka tetap istiqomah dengan ketaatannya. Dan akupun belajar dari mereka, yang dulunya aku hanya berhijab saat kesekolah saja, dan sekarang aku berusaha keluar rumah meski hanya selangkah kaki ini menuju keluar kan kucoba menutup auratku dengan baik. Meskipun masih ada saja cemo’oh orang luar maupun keluarga ku sendiri yang menilai itu terlalu berlebihan, namun ku terus bertahan untuk tidak terlalu memasukkan di dalam hati perkataan mereka walau itu sangat sulit dilakukan.

Seiring hari dan bulan berlalu, akhirnya mereka juga memahami apa yang telah aku lakukan ini adalah baik dan bukanlah hal yang berlebih. Ibu ku yang dulunya hanya jika keluar jauh mengenakan hijabnya, tapi kini untuk keluar sekedar kerumah tentangga sebelahpun ia sudah mengenakan hijab, begitupun saudariku lainnya. Aku sangat senang melihat perubahan mereka yang seperti itu. Karena mereka sekarang bukan hanya sekedar tau tapi sudah mulai memahami dalil-dalil mengenai kewajiban berhijab salah satunya dalam Q.S Al-Ahzab ayat 59 yang artinya : “ Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istri engkau, anak-anak engkau yang perempuan dan istri-istri orang Mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun. Maha Penyayang” dan ada juga sebuah dalil yang pernah kudengar, jika seorang perempuan melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa menutup aurat walaupun hanya selangkah, telah menghantarkan ayah tercintanya juga selangkah menuju ke neraka, na’uzubillahiminzalik.

Itulah indahnya kita tidak sekedar mengetahui ilmu agama namun juga memahaminya. Dengan ilmu, selembar kain yang menutupi aurat seorang muslimah akan mengangkat kehormatannya dan melindungi dirinya karena ia sadar selembar kain tersebut adalah sebuah syariat, bukan hanya selembar kain yang dipakai justru untuk menarik perhatian banyak orang terlebih lawan jenis. Karena islam itu sangatlah indah untuk memuliakan seorang wanita. Karena islam itu bukan mengekang seorang wanita namun melindungi seoarang wanita. Karena wanita itu perhiasan dunia yang terindah, dan mesti terjaga kemurniannya. Karena kebanyakan wanita yang ingin sekali menampakkan keindahannya, namun lupa akan penjagaannya. Karena nyatanya tampil sederhana adalah hal sulit bagi sebagian wanita, karena wanita memiliki kecenderungan ingin terlihat cantik dan mencintai keindahan, dan akupun kagum pada mereka ( wanita sederhana ) yang berhasil berdamai dengan egonya dan memenangkan ketaatannya. Dan terakhir, karena wanita bukan dari tulang ubun ia diciptakan sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja, tak juga dari tulang kaki ia diciptakan karena nista menjadikannya di injak dan di perbudak, namun dari tulang rusuk kiri ia diciptakan, dekat dihati untuk dicinta, dan dekat ke tangan untuk di lindungi.

Semoga diri ini dan teman muslimah ku sekalian dapat mencoba untuk hijrah yang sesungguhnya, karena hijrah itu berat namun untuk mempertahankannya itu lebih berat. Tapi wahai saudariku, tiada jalan yang lebih indah dari jalan menuju ketaatan. Sekalipun itu berat, pasti itupun akan ada balasan yang indah pada saatnya dari sang Maha Penyayang. Mencobalah dan yakinilah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *